Jumat, 16 September 2011 - 11:03:19 WIBKedelai 4 meter tahu tempe bisa murah lagi?
Diposting oleh : Albert Alexander Lutano
Kategori: Peluang Bisnis - Dibaca: 223 kali
Untuk menciptakan tanaman produktif para ahli tidak harus melakukan rekayasa genetika langsung pada tanaman itu. Buktinya, dengan pupuk yang diformulasikan secara khusus, tanaman kedelai bisa dipaksa menghasilkan kacang kedelai berlipat ganda.
Boleh percaya, boleh tidak. Tanaman kedelai yang biasanya memiliki tinggi tak
lebih dari 70 cm, dengan jumlah polong antara 40 s.d 80, ternyata bisa “disulap”
menjadi tanaman jangkung setinggi 4,5 m dengan jumlah polong 2.300 – 2.800
polong. Ruarrr biasa!
Namun, jangan membayangkan sosoknya menjadi besar seperti tanaman keras macam
pohon nangka atau rambutan. Penampilannya masih tetap seperti dulu. “Hanya
saja, batangnya sedikit lebih besar, lebih tinggi, dan berbuah lebih banyak,”
ujar Ir. Ali Zum Mashar (32), pemelihara tanaman kedelai jangkung dan produktif
ini.
Untuk membuat tanaman kedelai menjadi “raksasa”, Ali melakukan rekayasa pada
pupuknya. Tanamannya tidak diotak-atik sama sekali. Lingkungan penanamannya pun
tidak diberi perlakuan khusus, meskipun sebenarnya kedelai merupakan tanaman
subtropis. Yang dia sentuh cuma tanah tempat kedelai itu tumbuh dengan memberi
pupuk yang diformulasikan secara spesial.
Logikanya, jika tanahnya subur, tentu akan dihasilkan tanaman yang bagus. Hanya
saja, Ali tidak lantas latah menggunakan pupuk kimia yang banyak tersedia di
pasaran. Ia menggunakan pupuk hayati yang ia rekayasa secara khusus.
Mikroba biangnya
“Secara alami ada ‘pabrik pupuk’ yang membuat subur tanaman dan tanah tempat
tanaman bertumbuh. Namanya, mikroba,” ujar Zum. Jasad renik itu banyak
jenisnya, di antaranya ada yang menghasilkan unsur natrium, fospat, kalium, dan
zat kimia lain yang terdapat dalam pupuk kimia buatan. Mereka memproduksi zat
hara dan nutrisi melalui proses bio-perforasi. Selain memberikan zat hara pada
tanah, mereka juga bahu-mambahu menciptakan keseimbangan mikro-ekologi ke dalam
jaringan secara cepat. Sayangnya, tak semua tanah disusupi mikroba. Di sinilah
pupuk hayati bikinan Zum mengambil alih peran mikroba.
Berawal dari pemikiran itu, yakni bahwa tidak setiap tanah mengandung mikroba
yang bisa menghasilkan zat hara dan nutrisi, Ali tergerak untuk meneliti dan
mengumpulkan bermacam-macam mikroba penyubur tanaman dari ujung daun hingga ke
dalam tanah. Selama kurang lebih 10 tahun, alumnus Universitas Jenderal
Sudirman, Purwokerto, ini berkutat meneliti mikroba apa saja yang bisa
menyuburkan tanaman dan ramah bagi manusia maupun lingkungan.
Dari satu dekade berburu mikroba itu, terkumpullah 18 jenis mikroba, di
antaranya cyano-bacter, azospirella, dan pseudonomy bacter. Dengan formula
tertentu, para jasad renik itu diadon menjadi pupuk hayati baru yang oleh Ali
diberi nama Bio P2000 Z (Bio = bahan hidup, P = perforation technology, 2000 =
tahun pembuatan, Z = Zum, nama tengah Ali).
Meski cuma 18 mikroba yang terkumpul, ternyata tidak mudah memadukannya. “Ada
yang saling membunuh malahan. Harus by trial and error untuk membuat mereka
bisa berpadu,” terang Ali. “Tidak usah takut dan khawatir. Pupuk ini aman bagi
manusia dan lingkungan,” yakin Ali. Secara alami mikroba ini akan berkembang
terus, namun secara alami pula ia akan mati dengan sendirinya jika sudah jenuh
dan tugas dan kewajibannya selesai.
Diharapkan, pupuk Bio P2000Z ini bisa menjadi alternatif, menyusul dicabutnya
subsidi pupuk oleh pemerintah (Kompas, 4-1-2005). Nilai lebih pupuk hayati ini,
ia mampu mengembalikan kesuburan tanah yang rusak akibat bertahun-tahun dijejali
pupuk kimia buatan pabrik. Endapan pupuk di dalam tanah bisa diurai oleh
mikroba dalam pupuk Bio. Petani tak perlu lagi membeli pupuk kimia.
Soal harga pun, bisa diadu. Harga seliter pupuk Bio P2000Z cuma Rp 100.000,-.
Padahal, isinya setara dengan 200 kg urea (seharga Rp 200.000,-), 50 kg fosfat
(Rp 90.000,-), dan setara 40 kg pupuk KCL (Rp 60.000,-). Jika merasa kemahalan,
pupuk ini bisa diencerkan lagi dengan cara fermentasi selama 48 jam (dengan
menambah 1 kg gula, 1 kg urea, dan 20 l air). Seliter pupuk bisa diencerkan
menjadi 20 l pupuk cair. Jadi, harganya memurah menjadi sekitar Rp 5.000,-
seliter.
Zum sendiri telah mengujicobakan pupuknya untuk berbagai tanaman produksi dan
lahan pertanian, termasuk lahan gambut. Sebagai contoh bukti hasil pemakaian
pupuk Bio P200Z, Zum menyatakan, pupuk itu mampu meningkatkan jumlah panen
kedelai, yang semula 1,2 ton per ha menjadi 4,5 ton per ha dalam enam kali
pemupukan dengan jeda 1 – 2 minggu.
Untuk mendapatkan kedelai tingkat raksasa seperti di awal tulisan ini, tanaman
perlu dipupuk dua kali seminggu. Tiap ada tunas baru, semprotlah daun, batang,
dan tanahnya dengan pupuk ini.
Didasari keprihatinan
Pupuk Bio P200Z barangkali tidak akan pernah tercipta bila Ali Zum Mashar tidak
didera rasa prihatin melihat kondisi ekonomi petani sejak ia duduk di bangku
kuliah. Akibat revolusi hijau, produksi pertanian digenjot menggunakan pupuk
kimia. Pada awal panen hasilnya memang memuaskan, tetapi untuk selanjutnya
petani malah merugi. Setiap musim tanam, petani harus punya modal untuk membeli
bibit, pupuk, dan pestisida.
Ketika panen, belum tentu petani bisa langsung tersenyum bahagia meraup untung
dan menutup utang modalnya. Soalnya, harga jual hasil panen masih bisa digoyang
untuk menguntungkan pihak tertentu. Petani akan lebih merana lagi jika
tanamannya ludes diserang hama. Kalau demikian, dengan apa lagi petani bisa
membayar utangnya?
Jika kondisi seperti itu berlangsung terus-menerus, petani bisa makin jatuh
melarat, begitulah Zum membatin. Kalau akhirnya petani kemudian menggantung
paculnya, “Ini bahaya, negeri kita bisa rawan pangan. Meskipun bisa impor
pangan, hal itu tidak bisa dilakukan terus-menerus.”
Menurut Zum, salah satu kunci penyebab kemelaratan petani yaitu karena
ketergantungan petani dengan pupuk buatan. Takaran penggunaan pupuk buatan ini
untuk satu satuan luas perlu terus meningkat. Dari segi biaya, ini tentu
menambah ongkos produksi yang memberatkan petani.
Pemakaian urea yang berlangsung terus-menerus dan bertahun-tahun juga membuat
tanah menjadi seperti plastik. Akibatnya, tanah tidak bisa bernapas dan air pun
tidak bisa meresap. Ini baru akibat ulah urea. Belum akibat pupuk lain seperti
TSP dan fosfat yang membuat tanah menjadi asam.
Kalau sudah begitu, akar tanaman sulit berkembang dan hidup. Padahal, dari yang
dipelajari Ali, sesungguhnya tanaman bisa subur secara alami tanpa diberi pupuk
kimia buatan. Maka, ia pun berupaya mati-matian untuk menciptakan formula pupuk
hayati yang bisa memberi zat hara cukup bagi tanaman, tetapi tidak merusak tanah.
Hasilnya, ya pupuk hayati Bio P200 Z itu.
Bravo, Pak Zum!
15 Agustus 2011
Kedelai Raksasa Milik Pak ZumOleh: A. Bimo Wijoseno

Ubah Gurun Pasir menjadi Lahan Pertanian
0 Komentar :
Isi Komentar :


Pengunjung hari ini
Total pengunjung
Pengunjung Online